Kristologi dalam Sejarah

Dari segi dogmatis, jika kita berbicara mengenai Kristologi, apalagi dari segi historis, maka peran dan pandangan bapak-bapak Gereja mula-mula sangat menentukan. Puncak dari perkembangan doktrin dalam gereja mula-mula adalah ajaran mengenai Tritunggal. Lahirnya ajaran ini tidak dapat dilepaskan dari pergumulan gereja mengenai Yesus Kristus, yakni ketika gereja berusaha untuk memahami identitas Yesus (J. R. Illingworth, 1848-1915 yang dikutip Marianus Waang). Marianus Waang merinci dalam bahan ajar Kristologi dengan menyatakan: Pertama, dua sekolah: Alexandria (Mesir) dan Antiokhia (Siria). Sekolah yang pertama memberi penekanan kepada keilahian Kristus, kemudian menginterpretasikan keilahian itu sebagai the word becoming incarnate. Ayat kunci dari sekolah ini adalah Yohanis 1:14: “Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita, ...” Peristiwa inkarnasi ditekankan; sebagai akibatnya natal menjadi sebuah perayaan yang penting. Kristologi sekolah Alexandria boleh dibilang bersifat soteriologis. Yesus Kristus adalah Penebus umat manusia. Penebusan berarti “being taken up into the life of God atau being made divine”. Dengan kata lain, penebusan adalah deifikasi. Kristologi sekolah Alexandria dapat disimpulkan sebagai berikut: jika natur manusia hendak diilahikan, maka ia harus disatukan dengan natur ilahi. Allah harus menyatu dengan natur manusia sedemikian rupa sehingga natur manusia dimampukan untuk mendapat bagian dalam kehidupan Allah. Inilah, demikian kata sekolah Alexandria, sesungguhnya apa yang terjadi di dalam dan melalui inkarnasi Anak Allah di dalam Yesus Kristus. Pribadi kedua dalam Tritunggal mengambil natur manusia; dengan demikian menjamin keilahiannya. Dengan kata lain: Allah menjadi manusia supaya manusia dapat menjadi yang ilahi. Berlanjut !!!!!


Belum ada Komentar untuk "Kristologi dalam Sejarah"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel